Suara hujan yang jatuh membuat gaduh langit-langit warung kopi. Jejeran foto-foto kerap buram oleh uap kopi yang naik melewati. Musik melankolis pelan-pelan mengisi ruangan. Sementara jari-jari masih sibuk menekan abjad yang berserakan.
Lalu kamu datang.
Menutupi jejeran gambar, tak kabur oleh uap kopi yang mulai dingin,dan terdiam.
Aku seakan dimanjakan
Oleh bibir tipis menirukan alun lagu yang diputar,Oleh mata sayub yang mendamaikan,Oleh wajah putih rupawan tanpa kerutan.Sempat ingin pergi, aku pesan satu cangkir kopi lagi.
Tak mau luput dari setiap gerak yang kamu lakukan,Tak mau melewatkan setiap senyuman.
Lalu seseorang lain datang.
Menutupi rupa yang penuh kesempurnaan, yang baru sejenak aku agungkan.Setelah beberapa seduh kopi, kamu pergi. Dia pergi.
Dua cangkir putih kosong, Sempat hangat oleh seseorang, duduk arah jam dua belas.Pergi membawa kata-kata yang akan aku pusikanLalu tulisanku berhenti menari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar